The Power of Giving dan Kenikmatan Berbagi

Berbagi itu Nikmat. Dok. Daarut Tauhid

Berbagi itu Nikmat. Dok. Daarut Tauhid

The Power of Giving, jargon itu menjadi judul buku salah satu ustaz terkenal di Indonesia. Ada lagi ustaz yang lain yang menyebut bahwa sedekah itu jangan dihitung-hitung. Islam sendiri telah mensyariatkan hukum positif untuk bersedekah atau memberi. Baik itu sunah maupun wajib. Dari hal terkecil hingga terbesar, baik dari segi nilai maupun dampaknya.

Secara garis besar, berbagi itu tidak sebatas hanya memberi harta berupa uang. Dalam Islam, sebuah senyum kepada orang lain pun merupakan sebuah sedekah, sebagaimana Rasulullah bersabda, “Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan ‎gharib”. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib).‎

Kenikmatan Berbagi

Banyak studi yang mengatakan bahwa berbagi itu berdampak kebahagiaan bagi sang pemberi. Di antaranya seperti yang dilansir oleh Hidayatullah.com, Studi tahun 2006 oleh Jorge Moll dari National Institutes of Health menemukan bahwa ketika seseorang melakukan donasi kepada suatu yayasan, beberapa area di otak yang terkait dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa percaya turut aktif dan menciptakan efek “warm glow”.

Para peneliti juga percaya bahwa ketika melakukan tindakan altruistik, otak akan melepaskan endorfin, memproduksi perasaan positif yang disebut “helper’s high.” Fenomena tersebut dapat terjadi karena ketika menolong orang, otak memproduksi hormon dopamine (yang memberi perasaan bahagia dan keyakinan bahwa yang kita lakukan adalah hal yang benar) serta hormon oxytocin yang dikenal dapat mengurangi stres, meningkatkan fungsi imunitas, dan mengembangkan rasa percaya dalam interaksi antar manusia.

Sikap dermawan juga berkorelasi dengan kesehatan. Salah satunya adalah penelitian Stephanie Post yang dimuat dalam bukunya, Why Good Things Happen To Good People, yang menyatakan bahwa berbagi dengan sesama dapat meningkatkan kesehatan penderita penyakit kronis seperti HIV.

Sementara itu, Islam secara jelas menerangkan manfaat dari berbagi. Di antranya, Pertama, Allah telah menjamin pahala yang besar bagi muslim yang bersedekah. Allah berfirman, “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS: Al Hadiid: 7)

Kedua, berbagi dapat menambah kualitas dan kua titas barang yang diberikan, baik itu harta, maupun pelayanan. Rasulullah bersabda, ““Sesungguhnya tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, kecuali bertambah dan bertambah.” (HR. Tirmidzi).

Ketiga, berbagi atau sedekah, dapat mencegah bencana. Rasulullah menyampaikan bahwa bencana dapat dicegah dengan sedekah, seperti dalam sebuh hadist, “Hiasilah waktu pagimu dengan sedekah, niscaya bala’ tidak menghampiri.” (at – Targhin wa at – Targhib 2/20,39).

Keempat, penelitian diatas ternyata memperkuat pernyataan Rasulullah saw bahwa sedekah dapat menjadi obat. “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Thabrani dan Baihaki).

Menunda Sedekah

Allah telah menjamin kebaikan yang berlipat ganda dari berbagi, terutama sedekah harta. Walau demikian, terkadang masih ada kata ‘nanti’ ketika hendak melakukannya. Ketika ada sebuah kotak amal lewat dan dilihat tidak ada nominal yang dirasa belum pas untuk disedekahkan, maka sedekahpun tak jadi dilakukan. Sangat disayangkan.

Ada kasus ketika seorang bersedekah ketika dia sudah ‘ditampar’ oleh Allah dengan kehilangan sesuatu yang dicintainya. Setelah kehilangan, dia baru menyadari bahwa sedekahnya sangat kurang. Memang itu tidak salah. Namun, akan lebih baik jika dari awal orang tersebut bersedekah sebelum musibah itu terjadi. Bukankah sedekah itu pencegah bencana?

Menjemput Kenikmatan Sedekah

Membiasakan diri bersedekah setiap hari, terutama di pagi hari mejadi cara yang ampuh untuk merasakan berbagai kenikmatan di balik berbagi. Saat ini banyak lembaga zakat yang memfasilitasi masyarakat untuk berbagi dengan berbagai programnya, seperti DPU Daarut Tauhiid yang menggulirkan program Kencleng.

Kemudian yang paling penting adalah seorang muslim sepatutnya terus menambah ilmu mengenai berbagi atau sedekah, dari mulai ilmu zakat hingga wakaf. Dengan teknologi informasi sekarang, ilmu tersebut dapat diakses dengan mudah. Selain itu, bersilaturahim kepada ulama dan menghadiri kajian ilmu juga menjadi pilihan yang wajib dilakukan. Semoga kita semua digolongkan menjadi ahli sedekah. Amiin. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Agus Iskandar Darmawan
Laman : daaruttauhiid.org